Ketika AI Jadi Tukang Desain Dadakan: Fenomena Logo dan Banner yang Bikin Netizen Geleng Kepala

Coba AASLOVERS perhatikan spanduk warung makan atau toko online belakangan ini. Ada yang terasa berbeda seperti komposisinya terlalu ramai, tulisan fontnya aneh, atau ada elemen visual yang "nggak nyambung" tapi entah kenapa tetap dipasang. Kalau AASLOVERS merasa familiar dengan gejala ini, kemungkinan besar AASLOVERS baru saja melihat hasil karya AI generatif yang dipakai pedagang untuk bikin logo atau banner usahanya.

Fenomena ini makin ramai jadi obrolan warganet: satu sisi mengapresiasi kreativitas pelaku usaha kecil yang melek teknologi, sisi lain justru gemas karena hasilnya dianggap norak, membingungkan bahkan bikin pusing saat dilihat 

 

Kenapa Pedagang Ramai-Ramai Pakai AI?

 Oh ada isu eh dari Ai nak print banner. Tengok kt bazar macam banyak je banner  Ai

Jawabannya sederhana: murah, cepat, dan mudah diakses. Dulu, untuk punya logo atau banner yang terlihat profesional, pelaku UMKM harus merogoh kocek untuk jasa desainer grafis yang harganya cukup mahal, atau kalau budget terbatas biasanya mereka harus mengedit sendiri dengan keterampilan dan aplikasi gratisan dengan fitur yang terbatas ditambah masih harus memiliki kreatifitas tinggi. Sekarang, tinggal ketik prompt di aplikasi AI gratis dalam hitungan menit jadilah sebuah "karya".
 
Beberapa pelaku usaha bahkan bercerita sukses membangun citra produk mereka tanpa melibatnkan jasa desainer profesional sama sekali, cukup memanfaatkan platform AI gratis yang kini makin canggih dan mudah dipakai siapa saja. Ini jelas meggiurkan bagi pedagang dengan modal terbatas yang ingin tokonya terlihat "niat" tanpa budget besar.

 

Kenapa Netizen Protes?

Di sinilah masalahnya muncul. Banyak hasil desain AI yang dipakai apa adanya, tanpa disunting atau disesuaikan lagi. Beberapa keluhan yang sering muncul di kolom komentar

  1. Komposisi terlalu penuh dan berantakan. AI kadang menumpuk terlalu banyak elemen dekoratif dalam satu bidang kecil, membuat mata pusing saat mencoba menangkap informasi utama.
  2. Tipografi aneh atau tidak terbaca. ini merupakan "penyakit" klasik AI generatif. Huruf yang meleot, kata yang salah eja, atau font yang tidak konsisten satu sama lain.
  3. Visual tidak sesuai produk asli. Misalnya banner makanan yang menampilkan hidangan super mengilap dan sempurna bahkan ada yang mengatakan seperti "makanan dari lilin", padahal produk yang diterima pembeli jauh berbeda. Ini bisa memicu kekecewaan karena visual membentuk ekspektasi calon pembeli.
    Khusus untuk pedagang makanan, kritik ini terasa lebih tajam. Alih-alih terlihat menggiurkan, banyak gambar makanan hasil AI justru terlihat aneh dengan tekstur yang tidak natural, warna yang terlalu mencolok, atau bentuk makanan yang tidak masuk akal secara fisik. Alhasil, tujuan utama banner makanan yaitu memancing selera malah gagal tercapai, yang muncul malah rasa ragu atau bahkan enggan membeli. 
  4. Elemen yang tidak logis. Kadang muncul detail ganjil seperti proporsi objek yang salah, bayangan yang tidak masuk akal, atau kombinasi warna yang saling bentrok benar-benar ciri khas AI yang belum "paham" konteks visual manusia.
    Beberapa kasus bahkan menjadi polemik lebih besar, seperti logo acara resmi yang diduga hasil AI dan memicu tuntutan warganet agar panitia membuka proses pembuatannya demi menjaga transparansi dan keaslian karya.
          Cara Buat Banner Jualan Ayam Goreng Pakai Chat Gpt Ai | TikTok 

 

Dari TikTok, Merambat ke Threads dan X

Menariknya, obrolan soal fenomena ini biasanya tidak muncul begitu saja. Pola yang sering terlihat: protes dan sindiran soal desain AI pedagang ini mulai ramai di TikTok, berawal dari video keluh kesah seorang warganet, lalu banyak dari netizen yang setuju dengan keluhan itu akhirnya menggunakan sound awal untuk memvideo banner-banner usaha yang menggunakan AI. Dari sana, obrolan merembet ke Threads dan X, di mana diskusinya jadi lebih panjang mulai dari sekadar bercandaan, kritik membangun, sampai perdebatan soal etika pemakaian AI dalam bisnis kecil.

Pola penyebaran lintas platform ini menunjukkan betapa cepatnya sebuah keluhan kecil bisa membesar jadi obrolan nasional, terutama kalau contoh visualnya "relatable" dan gampang dijadikan bahan meme.

Solusi Netizen: Pakai Template Saja

Selain mengkritik, banyak juga netizen yang turun memberi solusi. Saran paling sering muncul daripada mengandalkan AI generatif sepenuhnya, lebih baik pedagang memakai template siap pakai dari aplikasi edit desain yang sudah dirancang rapi oleh desainer profesional. Aplikasi semacam ini biasanya menyediakan pilihan layout, kombinasi warna, dan font yang sudah teruji secara visual, sehingga hasilnya jauh lebih rapi dibanding komposisi acak buatan AI generatif.

Saran ini masuk akal karena template tetap murah bahkan banyak yang gratis, jadi tidak menghilangkan keunggulan biaya yang dicari pedagang. Selain itu, karena template dibuat berdasarkan prinsip desain yang sudah baku, risiko hasil akhir terlihat aneh atau berantakan jauh lebih kecil dibanding mengandalkan AI generatif dari nol.

  Gratis desain contoh contoh promosi makanan - Canva

Bukan AI-nya yang Salah, tapi Cara Pakainya

Banyak pengamat desain menekankan bahwa akar masalahnya bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan cara penggunaannya. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir kreatif manusia. Ketika hasil AI langsung diterima sebagai produk akhir tanpa proses kurasi atau penyuntingan, di situlah muncul desain-desain yang terasa aneh dan tidak matang.

Padahal, ada cara memakai AI dengan lebih bijak, misalnya:

  • Menggunakan AI hanya untuk elemen pendukung seperti background atau dekorasi, sementara foto produk asli tetap dipakai apa adanya
  • Memberi instruksi atau prompt yang lebih spesifik dan detail
  • Tetap melalui proses penyuntingan manual sebelum dipublikasikan
  • Membangun template yang konsisten (warna, font, layout) alih-alih membuat desain baru yang acar setiap kali promosi

Sisi Lain: Ini Soal Aksesibilitas

Di balik kritik netizen, ada realitas yang perlu dipahami bahwa tidak semua pedagang punya privillege untuk menyewa desainer profesional. Bagi banyak UMKM, AI adalah jalan pintas yang masuk akal secara ekonomi. Daripada tidak punya identitas visual sama sekali, hasil AI yang "kurang sempurna" tetap dianggap lebih baik daripada tidak ada branding sama sekali.

Ini artinya, kritik terhadap hasil desain sebaiknya diarahkan pada kualitas eksekusinya, bukan pada keputusan pedagang untuk memanfaatkan teknologi yang tersedia dan terjangkau bagi mereka. Bagi usaha atau brand yang sudah besar, juga sebisa mungkin meminimalisir penggunaan AI untuk membuat banner atau logo produk baru dan lainnya.

Penutup

Fenomena banner dan logo AI yang "bikin pusing" ini sebenarnya cerminan dari masa transisi teknologi baru yang mudah diakses, tapi belum semua orang paham cara memakainya dengan maksimal. Alih-alih hanya menertawakan atau nyinyir di kolom komentar, mungkin ini saat yang tepat untuk saling berbagi tips supaya UMKM tetap bisa memiliki desain yang bagus untuk usahanya baik menggunakan AI maupun  template dari aplikasi edit lainnya sehingga bisa tetap hemat tetapi juga hasilnya enak dipandang mata.  

0 Comments